Kamis, 07 Juli 2011

Anggota DPRD Kecam Bulog,

Pamanukan Subang, Kulitas untuk rakyat miskin atanapi Raskin yang disalurkan oleh bulog kembali mendapat sorotan. Karena kualitas beras yang diberikan kualitasnya tidak layak konsumsi. Kejadian ini  merupakan kedua kalinya yang menimpa masyarakat Pamanukan, setelah sebelumnya menimpa Desa Mulyasari,  kali ini kembali  dan menimpa desa Bongas dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Sukasari. Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan, beras raskin yang diterima warga Bongas Kecamatan Pamanukan sebanyak 4 ton , sekitar 500 Kg diantaranya dalam keadaan tidak layak konsumsi, seperti bau apek dan terdapat kutu beras. Sedangkan untuk Desa Batangsari, dari jumlah keseluruhan beras raskin yang dikirim ke desa tersebut, diperkirakan 70 persenya berkualitas sangat buruk, seperti warna yang sudah kehitaman, banyak kuta serta bau. Menanggapi serinya Bulog memberikan beras dengan kualitas tidak layak, anggota DPRD Subang dari Pantura Mimin Hermawan mengecam hal tersebut. Menurut Mimin seharusnya, Bulog  sebelum menyalurkan beras raskin, harus melalui pengecekan layak atau tidaknya untuk di berikan kepada masyarakat.
 

Sabtu, 02 Juli 2011

Bedah Rumah di Desa Lengkong jaya Kecamatan Pamanukan

Pamanukan,  Untuk membantu kepedulian warga masyarakatnya yang membutuhkan. Pemerintahan desa Lengkongjaya Kecamatan Pamanukan. Menggelar Bedah Rumah warganya. Bedah rumah milik mini 70 tahun warga dusun kali mati RT 2 RW OI Desa lengkongjaya di gelar pada minggu kemarin. Bedah rumah dengan ukuran 4 kali 3 ini  di bangun berasal dari dana kas desa swadaya masyarakat dusun kali mati dan juga bantuan dari LSM Mappeling dan juga LSM Bentar pantura dan juga para bakal calon kepala desa lengkongjaya .PLT Kepala desa Lengkongjaya Haerudin adi wijaya mengatakan, pihaknya sengaja menggelar berdah rumah tersebut, tujuannya untuk mengurangi beban warganya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantunya.(Reporter GSP Radio )

Pohon Berbuah Dua Diyakini Bisa Obati Penyakit

Subang - Pohon ajaib yang berbuah dua jenis di Kampung Kareo, Desa Caracas, Kecamatan Kalijati Subang diyakini warga setempat bisa mengobati sejumlah penyakit. Warga yang datang ke lokasi pohon itu ditanam, selain untuk melihat dari jarak dekat, juga memetik daun dan mengambil kulit batang pohon berbuah jambu biji dan kopi itu. 
Mereka meyakini batang pohon dan daun pohon ajaib itu bisa menyembuhkan penyakit yang kerap diidap warga setempat seperti batuk dan maag. Meskipun belum teruji secara medis, namun pohon milik Kosep itu menjadi alternatif obat bagi warga setempat. "Yang diambil daun atau kulit pohonnya. Setelah dibersihkan, kemudian direndam air panas, setelah larut baru diminum. Kebanyakan warga di sini kalau sakit batuk ga sembuh-sembuh minum itu langsung ilang,"
ujar Erwin, warga setempat mengatakan . Selain berkhasiat mengobati penyakit, pohon itu bisa mengusir makhluk halus. Caranya dengan menanam salah satu batang pohon itu di pekarangan rumahnya.[den] ( Inilahjabar)

e-KTP Segera dDirilis di Kabupaten Subang

Subang, Pemerintah Kabupaten Subang menargetkan merilis satu juta seratus ribu KTP elektronnik (e-KTP) pada 2012. KTP elektronik yang akan dirilis dilengkapi dengan pengamanan sidik jari dan sensor retina mata. Sehingga akan menghindari KTP ganda. Selanjutnya mampu mengantisipasi menyebarnya kegiatan yang dilarang oleh negara. "Diantaranya aksi terorisme yang sering memanfaatkan Kabupaten Subang sebagai jalur lintas kegiatannya," ujar Wakil Bupati Subang"Keberadaan KTP elektronik jangan sampai kalah oleh (sinetron) Islam KTP," ujar Wakil Bupati berseloroh. KTP eletronik Merupakan inovasi Pemerintah kabupaten Subang dalam meningkatkan pelayanan kependudukan. Inovasi ini sebagai jawaban atas tingginya dinamika kependudukan di Subang. Sehingga dengan inovasi ini bisa memberikan solusi pelayanan kependudukan yang terbaik. Diingatkan kembali oleh Wakil Bupati bahwa inovasi dalam suatu organisasi paling tidak harus memenuhi 3 aspek yaitu: menigkatkan efektifitas tercapainya tujuan organisasi, memberikan rumusan permasalahan dan memberikan solusinya serta harus diterima oleh masyarakat. ( HS )

Situs Istri Prabu Siliwangi Ditemukan di Subang

Subang - Situs purbakala istri Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang resmi ditetapkan berada di Desa Nangerang, Kecamatan Binong, Subang. Situs berupa bebatuan dan perhiasan serta sejumlah benda peninggalan Subang Larang pertama kali ditemukan pada 1979 dan 1981 di daerah Teluk Agung dan Muara Jati oleh Abah Roheman, warga setempat. Karena usianya sepuh, Abah Roheman mengamanatkan benda nilai sejarah itu kepada putranya Jajat Sandjaya. Setelah melalui tahapan kajian dan penelitian oleh para ahli arkeologi, benda purbakala itu disimpulkan memiliki kesamaan dengan yang ada di Pakuan, Bogor. "Situs ini memiliki nilai sejarah penting, tidak ada Cirebon kalau tidak ada Subang Larang. Batu itu, kalau saat ini Mixer yang digunakan masa lalu," ujar Luthfi Yaundri, arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung kepada INILAH.COM,Kamis (29/6/2011). Penemuan benda bernilai sejarah itu, kata Luthfi, mengungkap dan menyambung sejarah Prabu Siliwiangi, tokoh besar masyarakat Sunda yang Raja Pajajaran. Itu juga mengungkap data baru bahwa Subang merupakan bagian dari perjalanan era prasejarah. "Ini mempertegas, Subang pernah dilalui massa prasejarah, Subang pernah disinggahi pada masa Hindu, Budha hingga Islam pada abad sekitar 17 dan 18," paparnya. 
Penemuan benda sejarah ditemukan di sebuah kebun Jati yang berjarak sekitar 2 km dari jalan raya yang menghubungkan Subang Kota dan Pamanukan Jalur Pantura.[den]

Situs Subang Larang Bakal Jadi Wisata Budaya

Subang - Situs Subang Larang di Desa Nanggerang, Kecamatan Binong bakal menambah khazanah wisata budaya di Kabupaten Subang. Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jabar Herdiwan Iing Suratman, untuk menunjang menjadi wisata budaya, perlu adanya penataan area situs Subang Larang di Teluk Agung dan Muarajati tersebut. Pihak Provinsi sendiri akan mengucurkan dana Rp500 juta untuk pembenahan termasuk pemagaran area situs. “Misalnya di sini ada barang-barang cinderamata seperti mirip pisau atau lainnya, dan perlu dilakukan pemagaran untuk mengamankan situs atau masyarakat ada yang menemukan situs yang lainnya ” ujar Herdiwan di temui di lokasi situs Subang Larang, Kamis (30/6/2011). Sementara itu, Dinas Budaya, Pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disbudpora) Subang masih belum memastikan anggaran yang bakal dikucurkan untuk pengelolaan situs Subang Larang. Saat didesak apakah anggaran akan lebih besar dari Pemprov, Kasie Budaya Disbudpora Subang Mulyana hanya bisa mengamini. Sebelumnya, Abah Roheman menemukan situs Subang Larang itu di dua tempat yakni Teluk Agung dan Muarajati Desa nangerangm kecamatan Binong. Benda sejarah berupa batu, bejana ukuran kecil dan manik-manik
ditemukan pada 1979 dan 1981. Setelah dilakukan kajian ahli arkeologi, benda purbakala itu memiliki nilai historis lahirnya Rara Santang atau Sunan Gunudjati. Subang Larang sendiri merupakan istri Pamanah Rakas atau Prabu
Siliwangi yang juga Raja Pajajara. Dari pernikahannya itu, Subang Larang melahirkan beberapa keturunan diantaranya Rara Santang atau Sunan Gunung Djati dan Sultan Hasanudin yang mendirikan kerajaan di Banten.[den] ( Inilah jabar )

PNS Subang Capai 14.250, DPRD Dukung Moratorium

Subang, DPRD subang mendukung sepenuhnya usulan moratorium atau penghentian sementara penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Wakil Ketua DPRD Subang Agus Masykur Rosyadi mengungkapkan, gagasan yang dilontarkan Tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional untuk menghentikan sementara rekrutmen PNS sudah sangat tepat dan harus dilakukan, khususnya di Pemkab subang. Dengan jumlah PNS Pemkab Subang yang mencapai 14.250 orang, kata Agus, selain akan menguras banyak anggaran negara, juga tidak memberi jaminan kualitas kinerja pegawai dan atau pelayanan publik meningkat meningkat. Agus menjelaskan, dari Rp1,3 triliun yang berasal dari APBD 2011, sekitar 72% terkuras untuk biaya tidak langsung atau belanja pegawai. Sedangakn biaya langsung untuk kepentingan rakyat kurang dari 30%. Namun jumlah PNS yang cukup besar tersebut tidak memberi banyak peningkatan kinerja pada aparat pemerintah. Sebaliknya, tidak menutup kemungkinan muncul masalah baru. ( injab)